You are hereHome / Blog / HAJI DAN KEMATANGAN IMAN Oleh M Syamsi Ali

HAJI DAN KEMATANGAN IMAN Oleh M Syamsi Ali


By imaamnet - Posted on 03 November 2010

Printer-friendly versionPrinter-friendly versionSend to friendSend to friend

Saat ini jutaan umat Islam bergegas menuju tanah suci untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima, beribadah haji. Berbagai persiapan tentunya dilakukan karena memang ibadah ini memerlukan persyaratan 'kemampuan' (al-istitho'ah), baik dalam hal finansial dan fisik, maupun dalam hal persiapan ilmu dan yang lebih penting lagi persiapan mental spiritual.

 

Merupakan konsensus umat bahwa haji merupakan kewajiban atas semua Muslim yang telah memenuhi persyaratan kewajiban tersebut. Bahkan haji sebagaimana disebutkan di atas adalah salah satu rukun Islam yang lima. Sebagaimana disabdakan oleh rasulullah SAW: “Islam didirikan di atas lima dasar: syahadah laa ilaaha illa Allah wa anna Muhammadan Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadan dan berhaji be Baitullah bagi siapa yang mampu(hadits).

Kewajiban ini telah ditetapkan sebagan rukun terakhir dan hanya sekali dalam seumur manusia. Ketika rasulullah SAW menyampaikan perihal kewajiban ini dengan sabdanya 'Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kamu berhaji”, ada seorang sahabat bertanya: 'apakah setiap wahai Rasulullah?'. Beliau diam. Sang sahabat bertanya lagi. Beliau kembali diam. Setelah bertanya ketiga kalinya, beliau menjawab: 'kalau saya katakan iya, maka wajib (setiap tahun)'. Artinya, tidak perlu ditanya berapa kali kalau itu tidak disebutkan. Lakukan saja, dan anda telah melepaskan kewajiabnnya.

Saya tidak bermaksud membahas permasalahan hukum-hukum fiqh dari pelaksanaan ibadah haji ini. Saya sekedar ingin mencoba melihat lebih jauh makna-makna ibadah haji dalam proses menuju kepada kematangan iman seseorang.

Arti haji

Kata haji berasal dari kata 'hajja-yahijju-hijjun' (kata benda) atau 'hajja-yahujju-hajjun' (kata sifat). Kedua kata ini dapat diartikan 'melakukan perjalanan jauh

Namun demikian, bentuk kedua kata di atas (hajja-yahujju) juga bisa menghasilkan bentuk kata lain, yaitu 'hujjatun' (hajja-yahujju-hujjatun) yang berarti 'alasan, dasar, tanda, dalil, argumen, dll.

Apa hubungan keduanya?

Ternyata bahwa pelaksanaan ibadah haji merupakan representasi atau tanda yang jelas akan 'komitmen' seseorang untuk menjadi lebih sempurna dalam berislam. Panggilan haji adalah panggilan nurani untuk melakukan perintah Alah sebagai wujud kematangan iman. Itulah sebabnya, maka hampir seluruh rangkaian pelaksanaan ibadah haji terkait dengan Nabi kita Ibrahim AS karena beliau merupakan representasi kesempurnaan iman. Allah SWT menyebutkan: 'wa Ibraahiimu alladzi waffa' (Dan Ibrahim yg telah menyempurkana Islam).

Bahkan Al-Qur'an menyebutkan: 'Dan ingatlah ketika Allah menguji Ibrahim dengan beberapa perintah lalu dia menyempurkannya' (Al-Qur'an).

Semua ini menunjukkan bahwa melaksanakan ibadah haji juga berarti mencoba mengikuti 'ketauladana Ibrahim' dalam keimanan dan keisalaman kepada Allah SWT. Bahwa dalam proses menemukan hidayah Ibrahim melewati rintangan yang tidak mudah, sehingga perjalanan hidayah itu disebut 'inni muhaajirun ilaa Rabbi' (Sungguh saya berhijrah menuju Tuhanku).

Pelaksanaan Ibadah Haji

Seluruh rangkaian ibadah haji sesungguhnya menggambarkan 'kehidupan manusia' secara keseluruhan. Langkah-langkah perjalanan ibadah haji itu tak lain adalah 'miniatur kehidupan' dari awal hingga akhir.

Mulai dari persiapan haji sesungguhnya merupakan refleksi dari persiapan menjalani kehidupan secara keseluruhan. Bahwa seorang haji harus mempersiapkan diri dalam tiga hal; fisik/materi, ilmu dan ruh (mental spiritualitas). Manusia dalam menjalani kehidupan dunianya juga dituntut untuk mempersiapakn tiga persiapan mendasar in. Kebutuhan manusia mencakup tiga hal mendasar; kebutuhan material, intelektual dan spiritual. Oleh karenanya tanpa persiapan yang matang dalam tiga hal ini kehidupan akan menjadi timpang dan tidak imbang.

Mengawali perjalanannya, seorang haji harus melakukan rukun pertama haji yang disebut 'Ihram'. Ihram adalah kata lain dari niat formal untuk melaksanakan ibadah haji karena Allah SWT. Tapi kenapa niat haji diistilahkan Ihram?

Kata 'ihraam' berasal dari kata 'harama-yahrumu-haram' yang berarti 'kesucian, kehormatan'. Masdji Al-haram berarti masjid yang disucikan. Larangan-larangan disebut haram karena sakral untuk dilanggar.

Dengan demikian, melakukan ihram sesungguhnya adalah simbol dari sebuah 'reidentifikasi' (penemuan kembali) akan jati diri manusia. Bahwa sesungguhgnya manusia itu awalnya atau tepatnya tercipta dalam keadaan 'suci' (fitrah), dan bahwa semuanya memulai perjalanan hidup ini dalam keadaan suci atau fitrah. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW: 'Semua anak terlahir dalam keadaan suci, tapi kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, Nasrani atau Majusi' (hadits).

Dengan reidentifikasi kesucian kembali ini seorang haji akan bergegas menuju Mekah dengan seruan 'Labbaik Allahumma labbaik...dst' (Ya Allah kami datang memenuhi panggilanMu). Karena memang kehadiran kita di atas bumi ini bukan karena dosa atau untuk menjalani hukuman sebagaimana dalam ajaran agama lain, tapi untuk memenuhi panggilan Allah sebagai 'aabid' (ahli ibadah) dan 'khalifah' (pembangun bumi).

Sesampai di Mekah, seorang haji akan menuju masjidil haram untuk melakukan tawaf di sekitar Ka'bah al-Musyarrafah. Tawaf berarti melakukan putaran 7 kali sekitar Ka'bah dengan niat ibadah karena Allah SWT.

Tawaf sesungguhnya merupakan simbolisasi dari perputaran hidup manusia dalam menjalankan misi kehidupan tadi. Artinya, hidup itu adalah berputar, berubah, nggak statis dan dinamis. Hari ini seseorang boleh gembira, kaya, sehat, dan seterusnya. Jangan terkejut jika dia diesok hari menjadi miskin, sakit, menghadapi berbagai kesulitan. Itu hanya bagian dari perputaran hidup. “Dan pada hari itu itu Kami pergilirkan di antara manusia”, kata Al-Qur'an.

Berkeliling dalam hidup, kaya miskin, sehat sakit, mudah sulit, dan seterusnya, bukan sesuatu yang perlu menjadi pusat perhatian. Justeru yang paling penting menjadi pusat perhatian adalah apakah dalam proses keliling tersebut Ka'bah menjadi pusatnya? Dan di sinilah Ka'bah dipahami sebagai representasi 'Al-Haq' (Kebenaran) dalam berkeliling yang dimulai dari sudut dan dan diakhiri pada sudut yang sama. Dan itulah representasi dari 'inna lillahi wa inna ilahi raajiuun' (Sungguh kita adalah milik Allah dan sungguh semua kita akan kembali ke tujuan yang sama, yaitu Allah SWT).

Perjalanan seorang haji kemudian dilanjutkan dengan 'Sa'i'. Kata Sa'i itu berarti 'berusaha keras dan sungguh-sungguh' perwujudan dari kerja keras dan usaha sungguh-sungguh Sitti Hajar, Ibu Nabi Ismail AS ketika mencari air untuk mempertahankan hidupnya dan anaknya ketika itu. Beliau berlari mendaki gunung Safa mencari air tapi tidak ditemukan. Lalu beliau berlari mendaki gunung Marwa mencarinya, tapi juga tidak ditemukan. Dan pada akhirnya justeru apa yang dicari itu datang dari sumber yang tidak disangka-sangkanya. Yaitu dari bawah kaki anaknya sendiri yang ditinggalkan tidak jauh dari tempat pencariannya.

Manusia dalam mencari rezeki Allah SWT juga melakukan berbagai pendakian ke berbagai gunung. Mungkin istilah keseharian manusia perlu membanting tulang, memeras keringat dan bertetesan air mata dan bahkan darah sekalipun dalam proses pencarian tersebut. Dunia ini adalah tempat berjihad kata rasulullah SAW.

Namun satu hal yang manusia perlu ingat, bahwa hasil kerja keras tersebut tidak pernah dan jangan sampai mereka merasa yang menentukannnya. Toh, di atas sana, ada sang Pengatur yang mengatur apa dan bagaimana hasil kerja keras dan usaha sungguh-sungguh setiap manusia itu. Itulah yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Kitab SuciNya: 'Sungguh Allah memberikan rezeki siapa Yang Dia Kehendaki dari arah yang tiada disangka-sangka' (Al-Qur'an).

Pada tanggal 9 Dzulhijjah, seorang haji akan berada di sebuah lembah yang maha luas. Lembah ini disebut Arafah, tempat di mana jama'ah haji melakukan wukuf seharian. Dengan pakaian yang sama, perasaan yang sama, niat dan tujuan yang sama, jutaan manusia berada di tempat yang sama merendahkan diri, bermunajat kepadaNya untuk melakukan 'introspeksi' dan pembenahan diri 'self correction'.

Kenyataannya, dalam perjalanan kehidupan dengan kerja kerasnya tadi, terjadi banyak kekeliruan dan kesalahan yang diakibatkan oleh ciri manusia yang pelupa. Oleh karenanya, dalam prosesnya diperlukan 'proses penemuan kembali' (rediscover) jati diri manusia itu. Dan itulah Arafah, yang bermakna 'tempat pengenalan'. Dalam hidupnya manusia memerlukan 'wukuf' dari masa ke masa untk menemukan kembali jati dirinya. Manusia yang kehilangan jati diri akan menjalani kehidupannya tanpa orientasi yang jelas. Dan sesunguhnya itu yang disebut dengan 'kesesatan' (Dholaal).

Setelah terbenam matahari, sang haji akan segera bergegas meninggalkan Arafah menuju sebuah padang yang disebut 'Muzdalifah'. Istilah nii dalam Al-Qur'an juga disebut 'masy'arul haraam', sebagaimana difirmankan: 'fadzkuru Allah indal masya'aril haraam' (Dan ingatlah kepada Allah di Masy'aril haraam atau Muzdalifah).

Sesampai di Muzdalifah, sang haji tentunya melakukan dua hal; mengumpulkan batu-batu krikil dan melakukan zikr sebagaimana disebutkan dalm Al-Qur'an tadi. Kedua hal inilah yang diperlukan untuk perjalanan selanjutnya untuk melakukan peperangan melawan syetan-syetan kehidupan yang tersimbolisasi di Mina pada keesokan harinya.

Di Minalah seorang haji diharuskan menetap paling lama, yaitu 2 hari/malam atau 3 hari/malam. Pelaksanaan ibadah haji terlama adalah menetap atau mabit di Mina sebagai simbol perjuangan melawan musuh-musuh abadi (Iblis) yang tiada akhir. Namun satu hal yang paling penting diingat adalah bahwa pada hari pertama, lemparan hanya dilalakukan kepada 'Jumrah Aqabah' (syetan besar) sebagai simbolisasi syetan besar yang perlu ditaklukan sebelum menaklukkan syetan-syetan lainnya. Artinya, tidak mungkin manusia itu menaklukkan musuh-musuh lainnya sebelum menaklukkan musuh besarnya, yang tak lain adalah hawa nafsunya sendiri.

Tahallul

Rukun terakhir dari haji adalah tahallul, yang disimbolkan dengan mencukur sebagian atau seluruh rambut pria (wanita dengan memotong sedikit rambutnya).

Tahallul sesungguhnya adalah proses pembersihan diri setelah melalui proses transformasi spiritualitas tadi, dari ihram hingga jumrah di Mina. Dengan tahallul, sang haji memiliki komitmen kesucian atau fitrah untuk kembali menjalani kehidupan dunianya. Inilah yang menjadikan seorang haji dengan haji mabrur diibartakan dalam hadits sebagai 'ibarat seorang bayi yang baru terlahir dari ibunya'.

Bayi ini yang memiliki kefitarahan akan memulaim kehidupan baru, dengan komitmen baru, dan tentunya dengan langkah-langkah yang semakin segar untuk memenuhi 'panggilan Ilahi' dalam mewujudkan peribadatan hanya kepadaNya dan membangun dunia ini sebagai aktualisasi fungsi kekhilafahannya.

Tawaf Wada'

Pada akhirnya, sebelum meninggalkan tanah suci seorang haji diwajibkan untuk melaksanakan sebuah tawaf yang disebut 'tawaf wada' (selamat tinggal). Menurut hukum fiqh bahwa inilah kegiatan yang paling penutup selama berada di tanah haram karena memang sudah seharusnya melambaikan tangan mengucapkan 'selamat tinggal'.

Sebagaimana dijelaskan terdahulu, tawaf adalah simbolisasi perputaran hidup atau kehidupan dunia itu sendiri. Oleh karenanya, sebelum melambaikan tangan, menyampaika 'selamat tinggal' kepada tepat tawaf kita ini, seharusnya disadari bahwa dalam keadaan tersebut Ka'bah harus tetap menjadi patokannya.

Itulah makna ihdina as-sirotal mustaqim (tunjukilah kami ke jalan lurus), sebuah permohonan untuk tetap terjaga di atas jalan kebenaran hingga akhir pernapasan. Terjaga dalam hidayah hingga akhir detak jantung itulah yang disebut dalam istilah 'husnul khatimah' (akhir yang baik). Dan itulah sesungguhnya bukti kematangan Iman dan Islam yang mengantarkan pemiliknya kepada akhir kehidupan yang membahagiakan. Datang dengan kefitrahan laa ilaa ha illa Allah, dan meninggalkan dengan juga kefitrahan 'laa ilaaha illa Allah'. Semoga!

New York, 2 Nopember 2010.  

* Makalah untuk Majalah Ummi

Tags